17 Agustus 2026, Momentum Pendidikan Karakter di Tengah Perubahan Zaman
Pengamat pendidikan Dr. Adjat Wiratma, SH., M.Pd. menilai perayaan kemerdekaan memiliki nilai edukatif yang sangat kuat, khususnya bagi anak-anak dan generasi muda.
Menurutnya, berbagai kegiatan 17 Agustus di lingkungan sekolah maupun masyarakat dapat menjadi sarana pembelajaran karakter yang tidak selalu bisa diperoleh melalui pembelajaran di dalam kelas.
“Semangat kemerdekaan sebenarnya adalah laboratorium pendidikan karakter. Anak belajar tentang kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, disiplin, menghargai orang lain, dan menerima kemenangan maupun kekalahan,” ujar Adjat.
Ia mengatakan, kegiatan seperti perlombaan tradisional, kerja bakti, upacara, hingga kegiatan sosial seharusnya tidak dipandang sebagai kegiatan tambahan semata. Jika dirancang dengan baik, seluruh aktivitas tersebut dapat menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
Menurut Adjat, tantangan pendidikan saat ini bukan hanya bagaimana membuat anak pintar secara akademik, tetapi juga bagaimana membentuk generasi yang memiliki karakter kuat.
“Di tengah era digital dan AI, anak-anak membutuhkan kemampuan yang tidak cukup hanya diperoleh dari layar. Mereka membutuhkan pengalaman sosial secara langsung, kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, menyelesaikan konflik, dan memiliki empati,” katanya.
Jangan Berhenti pada Seremoni
Adjat mengingatkan agar perayaan kemerdekaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu menjadikan momentum tersebut sebagai pintu masuk untuk membicarakan kembali makna kemerdekaan kepada generasi muda.
“Anak perlu diajak memahami bahwa kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, menyampaikan gagasan, menghargai perbedaan, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan tersebut penting karena generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Informasi begitu mudah diperoleh, tetapi kemampuan memilah informasi, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, menurut dia, pendidikan nilai-nilai kemerdekaan harus mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budaya dan kebangsaan.
“Jangan sampai anak hafal sejarah kemerdekaan, tetapi tidak memahami nilai perjuangan. Jangan sampai mereka mengikuti lomba 17 Agustus setiap tahun, tetapi tidak menangkap pesan tentang kebersamaan dan gotong royong,” katanya.
Sekolah dan Keluarga Punya Peran
Adjat juga mendorong sekolah untuk mengemas kegiatan kemerdekaan sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual. Guru dapat mengajak siswa melakukan refleksi setelah mengikuti kegiatan, misalnya dengan menulis pengalaman, berdiskusi, membuat karya, atau mempresentasikan makna kemerdekaan menurut perspektif mereka.
Sementara itu, keluarga dapat memanfaatkan momentum 17 Agustus untuk mengenalkan sejarah bangsa melalui percakapan sederhana di rumah.
“Pendidikan karakter tidak hanya terjadi di sekolah. Rumah dan lingkungan masyarakat justru memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan kebiasaan anak,” ujarnya.
Ia menambahkan, semangat gotong royong yang selama ini menjadi bagian penting dalam perayaan kemerdekaan perlu terus dipertahankan di tengah kehidupan yang semakin individualistis akibat perkembangan teknologi.
Menurutnya, kegiatan bersama masyarakat dapat menjadi ruang bagi anak untuk melihat secara langsung bahwa kehidupan sosial membutuhkan kepedulian dan kolaborasi.
Kemerdekaan dan Masa Depan Pendidikan
Memasuki usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, Adjat berharap pendidikan nasional semakin mampu menyiapkan anak-anak menghadapi masa depan tanpa kehilangan identitas kebangsaan.
“Generasi masa depan harus menjadi generasi yang adaptif terhadap teknologi, tetapi tetap memiliki karakter Indonesia. Mereka boleh menjadi warga dunia, tetapi jangan kehilangan kepedulian terhadap bangsa dan lingkungannya,” katanya.
Ia menegaskan, kemerdekaan seharusnya menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan untuk terus memberikan ruang kepada anak agar tumbuh sebagai manusia yang merdeka dalam berpikir, bertanggung jawab dalam bertindak, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
“Kalau setiap perayaan 17 Agustus membuat anak semakin memahami arti kebersamaan, menghargai perjuangan, mencintai bangsanya, dan terdorong untuk belajar lebih baik, maka sesungguhnya kita sedang mengisi kemerdekaan melalui pendidikan,” kata Adjat.