Public Speaking Jadi Keterampilan Penting bagi Praktisi Pendidikan

Pendidikan 10 Aug 2026 11:16 3 min read 141 views By Ridwan Hermawan
Public Speaking Jadi Keterampilan Penting bagi Praktisi Pendidikan
Kemampuan public speaking tidak lagi sekadar menjadi keterampilan tambahan bagi praktisi pendidikan. Di tengah perubahan pola komunikasi dan berkembangnya ekosistem pembelajaran digital, kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas, meyakinkan, dan empatik dinilai menjadi bagian penting dari profesionalisme pendidik.

Pakar pendidikan yang juga merupakan praktisi komunikasi, Dr. Adjat Wiratma, S.H., M.Pd., menilai kemampuan berbicara di depan publik memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan proses pendidikan. Menurutnya, seorang pendidik tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus mampu mengomunikasikan pengetahuan tersebut agar mudah dipahami peserta didik maupun masyarakat.

“Guru, dosen, kepala sekolah, maupun praktisi pendidikan pada dasarnya adalah komunikator. Sebagus apa pun materi yang dimiliki, kalau tidak mampu menyampaikannya dengan baik, pesan pendidikan bisa tidak sampai kepada peserta didik,” ujar Adjat.

Menurut Adjat, public speaking dalam dunia pendidikan bukan sekadar kemampuan berbicara di depan banyak orang. Keterampilan tersebut mencakup kemampuan memahami karakter audiens, memilih bahasa yang tepat, mengelola ekspresi dan bahasa tubuh, membangun interaksi, hingga membaca respons dari lawan bicara.

Karena itu, pendidik perlu memahami bahwa setiap peserta didik memiliki karakter dan cara menerima informasi yang berbeda. Pendekatan komunikasi yang efektif harus disesuaikan dengan kondisi tersebut.

“Kenali siapa yang kita ajak bicara. Jangan menggunakan satu pola komunikasi untuk semua orang. Anak-anak berbeda dengan remaja, mahasiswa berbeda dengan orang tua, dan masyarakat umum juga memiliki karakter komunikasi yang berbeda,” katanya.

Adjat juga menekankan pentingnya unsur empati dalam public speaking. Menurut dia, komunikasi pendidikan akan lebih efektif ketika pendidik tidak hanya fokus pada apa yang ingin disampaikan, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana pesan tersebut diterima oleh audiens.

Selain itu, kemampuan memberikan dan menerima umpan balik menjadi bagian penting. Pendidik perlu membangun komunikasi dua arah sehingga proses pembelajaran tidak berubah menjadi sekadar aktivitas satu arah.

“Komunikasi yang baik bukan hanya tentang berbicara. Mendengarkan juga merupakan bagian dari public speaking. Kita harus mampu membaca respons, menerima pertanyaan, bahkan menghadapi kritik dengan sikap terbuka,” ujar Adjat.

Ia menambahkan, perkembangan media digital juga membuat keterampilan komunikasi semakin penting. Pendidik kini tidak hanya berbicara di ruang kelas, tetapi juga dapat berkomunikasi melalui video pembelajaran, webinar, podcast, media sosial, hingga berbagai platform konferensi daring.

Kondisi tersebut menuntut praktisi pendidikan memiliki kemampuan berkomunikasi lintas media. Cara berbicara di ruang kelas, menurut Adjat, tentu berbeda dengan ketika seorang pendidik menyampaikan materi melalui kamera atau forum digital.

“Media berubah, tetapi prinsip komunikasinya tetap sama: pesan harus jelas, audiens harus dipahami, dan komunikasi harus membangun hubungan. Justru di era digital, kemampuan public speaking semakin penting karena pendidik berhadapan dengan audiens yang lebih luas,” katanya.

Adjat berpandangan, penguatan keterampilan public speaking perlu menjadi bagian dari pengembangan kompetensi profesional praktisi pendidikan. Pelatihan tidak cukup hanya mengajarkan teknik berbicara, tetapi juga harus melatih kemampuan menyusun pesan, membangun kepercayaan diri, mengelola emosi, menggunakan bahasa tubuh, serta melakukan evaluasi terhadap efektivitas komunikasi.

“Tujuan akhirnya bukan membuat semua pendidik menjadi pembicara profesional. Tujuannya adalah membuat mereka mampu menyampaikan pesan pendidikan secara efektif, manusiawi, dan berdampak,” tutur Adjat.

Dengan kemampuan public speaking yang baik, praktisi pendidikan diharapkan tidak hanya mampu mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kepercayaan, menginspirasi peserta didik, serta menciptakan hubungan komunikasi yang lebih positif antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Chat with us on WhatsApp